Masa krisis yang belum juga terlewati, ternyata tidak menyurutkan minat kaum perempuan untuk berbelanja. Malah suatu penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa kegemaran mereka dalam berbelanja merupakan obat untuk menceriakan hati dalam mengatasi masalah keuangan yang terjadi.
Tim peneliti yang terdiri dari para psikolog mengatakan bahwa resesi yang terjadi saat ini dapat menimbulkan dua dampak bagi kaum perempuan, yaitu dapat memaksa mereka lebih banyak membelanjakan uangnya atau kemungkinan terburuknya mereka akan alami tekanan berlebih yang berisiko pada kesehatan mentalnya.
Survey yang dipimpin oleh Professor Karen Pine dari University of Hertfordshire ini menemukan bahwa sekitar 79 perempuan mengatakan mereka pergi berbelanja dan menghabiskan banyak uang hanya karena ingin membahagiakan hatinya. Sebagian perempuan juga menggunakan cara berbelanja untuk mengontrol emosinya, yaiu sebagai upaya untuk membius perasaan negative yang berkecamuk dalam dirinya dan meredam rasa ketidakpuasannya terhadap kehidupan. Dengan kata lain, ketakutan akan masalah financial secara bertentangan malah mendorong perempuan untuk berbelanja lebih banyak.
Hasil ini terungkap setelah tim peneliti melakukan survey terhadap 700 orang perempuan. Empat dari sepuluh responden mengaku mengalami depresi sebagai alasan mereka berbelanja. Sementara enam dari sepuluh perempuan mengatakan sedang merasa sedikit sensitive. Dan umumnya mereka beranggapan bahwa berbelanja merupakan kekuatan yang dapat membuat perasaan mereka menjadi lebih baik.
Menurut Professor Karen, kemampuan untuk mengatur emosi sangat penting untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Umumnya seseorang akan melakukan beragam cara untuk bisa mengatur emosinya tersebut, entah dengan mengkonsumsi alkohol atau pun obat-obatan. Bagi kaum perempuan, berbelanja merupakan salah satu metode yang lebih ampuh dan banyak dipilih.
”Jika berbelanja adalah kebiasaan emosional dari perempuan, maka mereka mungkin akan tetap melakukannya meskipun kondisi ekonomi cenderung menurun,” ungkap Professor Karen.
“Tapi kemungkinan terburuk yang terjadi jika mereka tidak bisa menyalurkan emosinya dengan berbelanja maka gangguan kesehatan mental pada perempuan seperti depresi dan rasa gelisah yang berlebihan akan semakin meningkat,” tambahnya.
Meskipun demikian, hasil survey juga menunjukan bahwa tidak semua perempuan merasa bahagia dengan kegiatan berbelanjanya itu. Satu dari empat perempuan mengaku merasa menyesal, bersalah dan malu karena telah menghabiskan uangnya dengan berbelanja.
Sumber : Conectique |
Berita Politik Terbaru
PKS Pertanyakan Pengumuman Pascapilpres PDIP yang diuntungkan oleh putusan MA mendesak agar KPU segera menerapkan putusan yang menjadi pro-kontra itu. Partai berlambang banteng moncong putih tersebut
|
Pasangan capres dan cawapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo Soebianto meluncurkan Mega-Prabowo Media Center (MPMC), Kamis (28/5) di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan.Sekitar pukul 14.10, pasangan
|
Manuver Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional Amien Rais sempat menimbulkan kontroversi. Awalnya, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang kerap menyerang SBY. Kini, ia berbalik
|
|
|
Berita Hiburan
Sheila Marcia Joseph tak akan lama menghirup udara bebas. Kabarnya, Mahkamah Agung memperpanjang masa penahanan Sheila. Aktris cantik itu harus kembali mendekam di bui selama lima bulan ke depan Lanjut...
|
Terkait beredarnya video porno yang mirip dengannya di jaringan internet, beberapa hari belakang ini, membuat aktris muda Shireen Sungkar angkat bicara. Setelah melihat secara langsung video Lanjut...
|
|